
Cerita ini untuk mereka yang
percaya bahwa kita pun bisa menjadi inspirasi untuk orang lain. Meskipun kita
tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Hufft. Aku menghela nafas. Seharusnya hari ini aku menjadi siswi SMA. Seharusnya
hari ini menjadi suatu kenangan di dalam hidupku. Tapi, aku sudah menyadarinya
kalau diriku tak mungkin merasakan serunya menjadi siswi SMA. Jangankan menjadi
siswi SMA, merasakan hangatnya mentari di pagi hari pun aku tak bisa. Indahnya
suasana di sore hari pun tak pernah aku rasakan. Aku memang terlahir sebagai
anak yang penyakitan. Hidup hanya untuk menyusahkan orang tua saja. Tak
henti-hentinya masuk keluar rumah sakit. Dari sekian banyak orang di dunia ini
mengapa harus aku yang terkena penyakit semacam ini? Penyakit yang entah kapan
sembuhnya.
Di pagi hari aku hanya bisa duduk sambil membaca buku yang sudah
berulang-ulang aku baca, di siang hari aku hanya bisa terbaring lemah, dan di
malam hari akan ada ibu yang akan menemaniku dan berbincang-bincang denganku.
Aku tak tahu seperti apa kehidupan seorang yang normal. Aku tak tahu.
Hmm. Lagi-lagi hari ini kurasakan sakit di kepalaku. Aku memang sudah
terbiasa dengan ini. Selalu dan selalu seperti ini. Tetapi entah mengapa hari
ini sakit di kepala ini kian hari kian bertambah. Kian hari kian menambah
penderitaanku. Aku tak ingin mengeluh dengan ibu. Karena ibu pasti akan
khawatir jika akhir-akhir ini kepalaku kian bertambah sakit.
Hari demi hari berlalu kepalaku makin sakit. Dan pagi ini, sungguh tak
dapat lagi kubendung rasa sakitku. Aku pun pingsan di kursi kesayanganku. Kursi
yang selama ini menemaniku di pagi hari. Saat aku bangun aku mendapati saluran
sudah ada di hidungku. Entah saluran apa ini. Mungkin ini membantuku agar tetap
bisa bertahan hidup. Aku semakin menyadari jika kian hari sakit yang kuderita
kian bertambah parah. Ku perhatikan sekelilingku. Lagi-lagi di rumah sakit.
Suasana yang sudah aku hafal. Tapi ada yang berbeda kali ini. Di sampingku
terdapat sebuah ranjang yang berada di dekat jendela. Di ranjang tersebut ada
seorang gadis yang cantik. Seorang gadis yang manis.
“Hmm. Maaf, kamu siapa?”, aku mencoba bertanya.
“Kamu sudah sadar. Saya bunga.” , jawabnya.
“Bunga? Hmm. Nama yang bagus. Nama aku Lyla”, aku memperkenalkan diriku.
“Terima kasih. Nama kamu juga bagus. Lyla. Aku menyukainya.” , serunya.
Dari situlah perkenalanku dengan Bunga. Dia gadis yang baik. Sangat
baik malah. Ternyata ia juga menderita sebuah penyakit yang parah. Ia menderita
sebuah penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di
setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Berbeda dengan Bunga,
aku sendiri harus terus berbaring di tempat tidur.
Setiap hari kami saling bertukar cerita selama berjam-jam. Bunga anak
yang menyenangkan. Aku sangat menyukainya. Dia sekarang sudah menjadi teman
baikku. Dia teman pertama yang kumiliki. Setiap hari kami membicarakan tentang
kehidupan kami, hobi kami, hal-hal yang kami sukai maupun yang kami tidak
sukai.
Setiap sore, ketika Bunga diperbolehkan untuk duduk, ia menceritakan
tentang apa yang terlihat di luar jendela kepadaku. Selama satu jam itulah, aku
merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua
kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah, itik dan
angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu
mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan tangan di tengah taman yang
dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua
besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat langit kota yang
mempesona. Suatu senja yang indah.” , ceritanya.
Bunga menceritakan keadaan di luar jendela dengan sangat detail,
sedangkan aku memejamkan mataku dan membayangkan semua keindahan pemandangan
itu. Perasaanku menjadi lebih tenang, dalam menjalani keseharianku di rumah
sakit. Aku pun jarang mengeluh lagi di dalam hati. Semangat hidupku menjadi
lebih kuat dan percaya diriku menjadi bertambah karena Bunga.
Pada suatu sore yang lain, bunga menceritakan sebuah parade karnaval
yang sedang melintas.
“Di luar jendela, tampak sebuah
parade karnaval. Mereka memakai macam-macam pakaian yang aneh namun indah.
Mereka memainkan music dengan melodi yang menggetarkan hati. Macam-macam aneka peralatan musik yang mereka
bawa. Ada harmonica yang dimainkan dengan harmoni yang menyentak hati, ada drum
dengan pukulan yang sangat memukau, ada saxofon yang dibawakan dengan irama
yang menenangkan jiwa.”
Aku tak dapat mendengar suara parade itu, namun aku dapat melihatnya
melalui pandangan mata Bunga yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang
indah. Aku sangat salut kepada Bunga. Ia benar-benar teman yang sangat berharga
bagiku.
Begitu pun seterusnya, dari hari ke hari. Semakin hari aku aku semakin
senang berada di sini karena ada Bunga yang senantiasa menemaniku. Sampai satu
minggu pun berlalu.
Entah mengapa hari ini perasaanku kurang enak. Aku merasa akan ada
sesuatu yang buruk. Tapi aku menepis semua itu karena aku percaya hari ini pun
Bunga akan kembali memperbaiki suasana hatiku dengan menceritakan segala hal
yang terjadi di luar jendela sana.
Pagi ini, perawat datang membawa
sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mencoba membangun-bangunkan Bunga. Tapi Bunga
tak kunjung bangun juga. Perasaan yang mencekam lalu membanjiri tubuhku. Aliran
darahku mengalir kurasakan lebih cepat dari sebelumnya. Detak jantungku
kurasakan berdetak tak sesuai dengan alurnya. Kulihat perawat itu menjadi
sedih. Bunga yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan
tenang dalam tidurnya. Aku sangat sedih.
Benar-benar sedih sehingga aku tak sanggup memikirkan apa-apa lagi. Perawat
tadi kemudian memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah.
Aku diliputi rasa kehilangan. Kehilangan seorang Bunga. Lalu aku segera
meminta perawat memindahkanku ke tempat tidur Bunga. Perawat itu menuruti semua
keinginanku dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika
semuanya selesai, ia meninggalkanku seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, aku memaksakan diri untuk bangun. Aku
ingin sekali melihat keindahan di dunia melalui jendela itu. Ada sedikit
kesenangan dalam hatiku akhirnya aku bisa melihat dan menikmati semua keindahan
itu. Meskipun aku masih sangat sedih karena baru saja kehilangan seorang Bunga.
Hatiku tegang, perlahan aku menjengukkan kepalaku ke jendela di samping tempat
tidurku. Sesaat kemudian aku berhenti bernafas. Apa yang kulihat? Ternyata,
jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Aku sungguh kaget. Benar-benar kaget. Lalu aku berseru memanggil
perawat tadi dan menanyakan apa yang membuat Bunga yang telah meninggal tadi
bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik
jendela itu.
“Sus, apa yang terjadi. Mengapa bisa begini?” , aku bertanya kepada
suster itu.
“Ia merupakan seorang yang buta. Jangankan melihat semua keindahan yang
kamu bilang, melihat tembok pun ia tidak bisa.” , jawab perawat itu.
“Hmm. Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup.”, lanjut perawat
tadi.
Hatiku seketika bergetar. Bunga. Bunga yang selama ini menceritakan
keindahan padaku ternyata adalah seorang yang buta. Aku tak menyangka semua
ini. Bunga yang kelihatan tegar itu ternyata adalah seseorang yang tak bisa
melihat. Bunga adalah inspirasiku. Bunga adalah penyemangatku. Bunga yang
berjiwa besar itu telah membangkitkan semangat hidupku. Aku berjanji padamu,
Bunga. Kalau aku akan terus hidup dan melawan penyakit ini. Suatu saat nanti,
aku akan melihat semua keindahan yang kau ceritakan kepadaku. Terima kasih,
Bunga.
Kaulah yang menginspirasiku, kawan.
Lalu apa yang bisa kita pelajari dari cerita
di atas?
Kawan-kawan yang saya cintai..
Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi
setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata adalah layaknya pemicu yang mampu
menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu.
Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk berpikir, dan bertindak.
Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan
yang sangat kuat. Dan kita telah sama-sama melihatnya dlam cerita di atas.
Kekuatan kata-kata akan selalu hadir pada kita yang percaya.
Kita percaya, kata-kata yang santun, sopan,
penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam
setiap langkah manusia. Ucapan-ucapan yang bersemangat, tutur kata yang
membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang
mempesona saat kita mampu memberikan kebhagiaan kepada orang lain. Menyampaikan
keburukan sebanding dengan setengah kemakmuran, namun menyampaikan kebahagiaan
akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.
