Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 Maret 2012

Kaulah yang menginspirasiku, kawan


 
Cerita ini untuk mereka yang percaya bahwa kita pun bisa menjadi inspirasi untuk orang lain. Meskipun kita tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Hufft. Aku menghela nafas. Seharusnya hari ini aku menjadi siswi SMA. Seharusnya hari ini menjadi suatu kenangan di dalam hidupku. Tapi, aku sudah menyadarinya kalau diriku tak mungkin merasakan serunya menjadi siswi SMA. Jangankan menjadi siswi SMA, merasakan hangatnya mentari di pagi hari pun aku tak bisa. Indahnya suasana di sore hari pun tak pernah aku rasakan. Aku memang terlahir sebagai anak yang penyakitan. Hidup hanya untuk menyusahkan orang tua saja. Tak henti-hentinya masuk keluar rumah sakit. Dari sekian banyak orang di dunia ini mengapa harus aku yang terkena penyakit semacam ini? Penyakit yang entah kapan sembuhnya.

Di pagi hari aku hanya bisa duduk sambil membaca buku yang sudah berulang-ulang aku baca, di siang hari aku hanya bisa terbaring lemah, dan di malam hari akan ada ibu yang akan menemaniku dan berbincang-bincang denganku. Aku tak tahu seperti apa kehidupan seorang yang normal. Aku tak tahu.

Hmm. Lagi-lagi hari ini kurasakan sakit di kepalaku. Aku memang sudah terbiasa dengan ini. Selalu dan selalu seperti ini. Tetapi entah mengapa hari ini sakit di kepala ini kian hari kian bertambah. Kian hari kian menambah penderitaanku. Aku tak ingin mengeluh dengan ibu. Karena ibu pasti akan khawatir jika akhir-akhir ini kepalaku kian bertambah sakit.

Hari demi hari berlalu kepalaku makin sakit. Dan pagi ini, sungguh tak dapat lagi kubendung rasa sakitku. Aku pun pingsan di kursi kesayanganku. Kursi yang selama ini menemaniku di pagi hari. Saat aku bangun aku mendapati saluran sudah ada di hidungku. Entah saluran apa ini. Mungkin ini membantuku agar tetap bisa bertahan hidup. Aku semakin menyadari jika kian hari sakit yang kuderita kian bertambah parah. Ku perhatikan sekelilingku. Lagi-lagi di rumah sakit. Suasana yang sudah aku hafal. Tapi ada yang berbeda kali ini. Di sampingku terdapat sebuah ranjang yang berada di dekat jendela. Di ranjang tersebut ada seorang gadis yang cantik. Seorang gadis yang manis.

“Hmm. Maaf, kamu siapa?”, aku mencoba bertanya.
“Kamu sudah sadar. Saya bunga.” , jawabnya.
“Bunga? Hmm. Nama yang bagus. Nama aku Lyla”, aku memperkenalkan diriku.
“Terima kasih. Nama kamu juga bagus. Lyla. Aku menyukainya.” , serunya.

Dari situlah perkenalanku dengan Bunga. Dia gadis yang baik. Sangat baik malah. Ternyata ia juga menderita sebuah penyakit yang parah. Ia menderita sebuah penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Berbeda dengan Bunga, aku sendiri harus terus berbaring di tempat tidur.

Setiap hari kami saling bertukar cerita selama berjam-jam. Bunga anak yang menyenangkan. Aku sangat menyukainya. Dia sekarang sudah menjadi teman baikku. Dia teman pertama yang kumiliki. Setiap hari kami membicarakan tentang kehidupan kami, hobi kami, hal-hal yang kami sukai maupun yang kami tidak sukai.

Setiap sore, ketika Bunga diperbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepadaku. Selama satu jam itulah, aku merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah, itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan tangan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.” , ceritanya.

Bunga menceritakan keadaan di luar jendela dengan sangat detail, sedangkan aku memejamkan mataku dan membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaanku menjadi lebih tenang, dalam menjalani keseharianku di rumah sakit. Aku pun jarang mengeluh lagi di dalam hati. Semangat hidupku menjadi lebih kuat dan percaya diriku menjadi bertambah karena Bunga.

Pada suatu sore yang lain, bunga menceritakan sebuah parade karnaval yang sedang melintas.

“Di luar  jendela, tampak sebuah parade karnaval. Mereka memakai macam-macam pakaian yang aneh namun indah. Mereka memainkan music dengan melodi yang menggetarkan hati.  Macam-macam aneka peralatan musik yang mereka bawa. Ada harmonica yang dimainkan dengan harmoni yang menyentak hati, ada drum dengan pukulan yang sangat memukau, ada saxofon yang dibawakan dengan irama yang menenangkan jiwa.”

Aku tak dapat mendengar suara parade itu, namun aku dapat melihatnya melalui pandangan mata Bunga yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah. Aku sangat salut kepada Bunga. Ia benar-benar teman yang sangat berharga bagiku.

Begitu pun seterusnya, dari hari ke hari. Semakin hari aku aku semakin senang berada di sini karena ada Bunga yang senantiasa menemaniku. Sampai satu minggu pun berlalu.

Entah mengapa hari ini perasaanku kurang enak. Aku merasa akan ada sesuatu yang buruk. Tapi aku menepis semua itu karena aku percaya hari ini pun Bunga akan kembali memperbaiki suasana hatiku dengan menceritakan segala hal yang terjadi di luar jendela sana.

Pagi ini, perawat datang  membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mencoba membangun-bangunkan Bunga. Tapi Bunga tak kunjung bangun juga. Perasaan yang mencekam lalu membanjiri tubuhku. Aliran darahku mengalir kurasakan lebih cepat dari sebelumnya. Detak jantungku kurasakan berdetak tak sesuai dengan alurnya. Kulihat perawat itu menjadi sedih. Bunga yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.  Aku sangat sedih. Benar-benar sedih sehingga aku tak sanggup memikirkan apa-apa lagi. Perawat tadi kemudian memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah.

Aku diliputi rasa kehilangan. Kehilangan seorang Bunga. Lalu aku segera meminta perawat memindahkanku ke tempat tidur Bunga. Perawat itu menuruti semua keinginanku dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkanku seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, aku memaksakan diri untuk bangun. Aku ingin sekali melihat keindahan di dunia melalui jendela itu. Ada sedikit kesenangan dalam hatiku akhirnya aku bisa melihat dan menikmati semua keindahan itu. Meskipun aku masih sangat sedih karena baru saja kehilangan seorang Bunga. Hatiku tegang, perlahan aku menjengukkan kepalaku ke jendela di samping tempat tidurku. Sesaat kemudian aku berhenti bernafas. Apa yang kulihat? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

Aku sungguh kaget. Benar-benar kaget. Lalu aku berseru memanggil perawat tadi dan menanyakan apa yang membuat Bunga yang telah meninggal tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu.

“Sus, apa yang terjadi. Mengapa bisa begini?” , aku bertanya kepada suster itu.
“Ia merupakan seorang yang buta. Jangankan melihat semua keindahan yang kamu bilang, melihat tembok pun ia tidak bisa.” , jawab perawat itu.
“Hmm. Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup.”, lanjut perawat tadi.

Hatiku seketika bergetar. Bunga. Bunga yang selama ini menceritakan keindahan padaku ternyata adalah seorang yang buta. Aku tak menyangka semua ini. Bunga yang kelihatan tegar itu ternyata adalah seseorang yang tak bisa melihat. Bunga adalah inspirasiku. Bunga adalah penyemangatku. Bunga yang berjiwa besar itu telah membangkitkan semangat hidupku. Aku berjanji padamu, Bunga. Kalau aku akan terus hidup dan melawan penyakit ini. Suatu saat nanti, aku akan melihat semua keindahan yang kau ceritakan kepadaku. Terima kasih, Bunga.
Kaulah yang menginspirasiku, kawan.




Lalu apa yang bisa kita pelajari dari cerita di atas?

Kawan-kawan yang saya cintai..

Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata adalah layaknya pemicu yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk berpikir, dan bertindak.

Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Dan kita telah sama-sama melihatnya dlam cerita di atas. Kekuatan kata-kata akan selalu hadir pada kita yang percaya.

Kita percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah manusia. Ucapan-ucapan yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebhagiaan kepada orang lain. Menyampaikan keburukan sebanding dengan setengah kemakmuran, namun menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar